-->

SPIRITNEWS BERITANYA: LUGAS, JUJUR DAN DAPAT DIPERCAYA

**** SPIRITNEWS "AYO KITA DUKUNG PROGRAM PRESIDEN RI PRABOWO SUBIANTO DAN WAKIL PRESIDEN RI GIBRAN RAKABUMING RAKA BERSAMA KABINET MERAH PUTIH, UNTUK INDONESIA EMAS 2045 "YANG PEDULI KEPENTINGAN RAKYAT DAN MENGUTAMAKAN KEBUTUHAN RAKYAT ", ****
Kaur DVI Bid Dokkes Polda Sulsel, Memberikan Edukasi dan Pelatihan Mengenai Prosedur Identifikasi Korban Bencana di Soppeng
Kaur DVI Bid Dokkes Polda Sulsel, Memberikan Edukasi dan Pelatihan Mengenai Prosedur Identifikasi Korban Bencana di Soppeng

Kaur DVI Bid Dokkes Polda Sulsel, Memberikan Edukasi dan Pelatihan Mengenai Prosedur Identifikasi Korban Bencana di Soppeng

Foto.- Kompol Abd. Rahman, Kaur DVI Biddokkes Polda Sulsel, bersama tim dengan Wakapolres Soppeng Kompol Sudarmin bersama peserta sosialisasi. Pada Hari Kamis, Tanggal 25 Juni 2026.

SOPPENG, SPIRITNEWS.COM.- Kaur DVI Biddokkes Polda Sulsel, Kompol Abd. Rahman, S.H., S.K.M., M.AP., merupakan perwira kepolisian yang aktif memberikan edukasi dan pelatihan mengenai prosedur identifikasi korban bencana (Disaster Victim Identification / DVI) serta penanganan korban massal bagi personel lapangan di wilayah Sulawesi Selatan.

Semantara menurutnya dalam berbagai kesempatan sosialisasi dan pelatihan kesehatan lapangan, beliau menekankan beberapa poin krusial terkait penanganan korban, antara lain:

1.- Prinsip Utama Prosedur DVIMetode Ilmiah: Identifikasi jenazah harus dilakukan secara ilmiah dan valid agar hasilnya dapat dipertanggungjawabkan secara hukum dan medis.

Kerja Sama Tim: Proses penanganan melibatkan sinkronisasi kerja antara tim di lapangan (olah TKP) dan tim medis/forensik di posko pemeriksaan.

2.- Lima Fase Standar Operasional DVI, Prosedur identifikasi yang diajarkan mengikuti standar internasional (Interpol) yang terdiri dari 5 fase utama:

Fase 1.- The Scene (Olah TKP): Pencarian, pemberian label, dan evakuasi korban dari lokasi bencana secara hati-hati agar tidak merusak properti atau bukti identitas yang melekat.

Fase 2.- Post-Mortem Examination: Pemeriksaan fisik jenazah di kamar mayat oleh tim forensik. Proses ini meliputi pemeriksaan sidik jari, struktur gigi, ciri-ciri medis (seperti bekas operasi), pakaian, hingga pengambilan sampel DNA.

Fase 3.- Ante-Mortem Information Retrieval: Pengumpulan data korban semasa hidup dari pihak keluarga di Posko Ante Mortem. Data yang dikumpulkan meliputi foto terbaru, rekaman medis/gigi, serta sampel DNA pembanding dari keluarga kandung.

Fase 4.- Reconciliation (Rekonsiliasi): Rapat penentuan di mana para ahli mencocokkan data Post-Mortem (dari jenazah) dengan data Ante-Mortem (dari keluarga).

Jika minimal satu indikator primer (sidik jari, gigi, atau DNA) cocok, korban dinyatakan teridentifikasi.

Fase 5.- Debriefing: Fase terakhir berupa penyerahan jenazah secara resmi kepada pihak keluarga untuk dimakamkan, serta evaluasi total terhadap jalannya operasi DVI.

3.- Penguatan Kapasitas Personel MassalSinergi Lapangan:

Pemahaman ini ditujukan agar satuan operasional, seperti Satbrimob dan Ditpolairud, memiliki kemampuan teknis yang mumpuni saat menjadi garda terdepan di lokasi bencana alam atau kecelakaan massal.

Menghindari Kesalahan Identifikasi:
Penguasaan prosedur ini sangat krusial guna meminimalkan risiko tertukarnya jenazah, yang dapat memicu masalah hukum maupun trauma psikologis mendalam bagi keluarga korban.

Sementara berdasarkan pemantauan kegitan tersebut, dibuka oleh Kompol Sudarmin, S.Sos., Wakapolres Soppeng, dalam upaya meningkatkan kemampuan dan kesiapsiagaan personel dalam menghadapi situasi bencana serta proses identifikasi korban, Seksi Kedokteran dan Kesehatan (Sidokkes) Polres Soppeng melaksanakan kegiatan Sosialisasi Disaster Victim Identification (DVI) dan Penanggulangan Bencana yang berlangsung di Aula Tantya Sudhirajati Polres Soppeng., Pada Hari Kamis, Tanggal 25 Juni 2026.

Selain itu, Kapolres Soppeng AKBP Aditya Pradana, S.I.K., M.I.K., menyampaikan bahwa kegiatan sosialisasi ini merupakan bagian dari upaya Polri untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dalam menghadapi tantangan tugas yang semakin kompleks.

"Kemampuan penanganan bencana dan identifikasi korban merupakan kompetensi penting yang harus dimiliki personel Polri. Melalui sosialisasi ini, kami berharap seluruh personel semakin memahami peran dan tanggung jawabnya dalam mendukung operasi kemanusiaan, sehingga dapat memberikan pelayanan yang cepat, tepat, dan profesional kepada masyarakat saat terjadi bencana maupun keadaan darurat," ujar AKBP Aditya Pradana.

Diakhir keterangan Kapolres juga menegaskan bahwa kesiapsiagaan personel menjadi salah satu faktor utama dalam mendukung keberhasilan pelaksanaan tugas kepolisian, khususnya pada aspek perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat.(*).

Baca juga:

Admin
Fusce justo lacus, sagittis vel enim vitae, euismod adipiscing ligula. Maecenas cursus gravida quam a auctor. Etiam vestibulum nulla id diam consectetur condimentum.