
SPIRITNEWS.COM.- Dulu Dosen dan Pengusaha Sukses, Kini Amran Sulaiman Jadi 'Panglima' Pangan Pilihan Prabowo, di tengah ambisi besar Indonesia mencapai swasembada pangan, nama Andi Amran Sulaiman kembali mencuat sebagai sosok sentral.
Pria asal Bone, Sulawesi Selatan, ini kini mengemban amanah berat sebagai "Panglima" di sektor pangan.
Namun, di balik seragam menterinya, tersimpan perjalanan panjang seorang intelektual dan pengusaha yang membangun kerajaan bisnis dari nol.
Berawal dari Ruang Kuliah dan Inovasi Ilmiah
Andi Amran Sulaiman bukanlah orang baru di dunia pertanian. Sebelum dikenal sebagai pejabat negara, ia adalah seorang akademisi murni.
Sebagai dosen di Universitas Hasanuddin, Amran dikenal memiliki ketajaman intelektual yang luar biasa.
Ia bukan tipe akademisi yang hanya duduk di belakang meja. Kecintaannya pada riset membuahkan 5 hak paten penting di bidang pertanian.
Salah satu yang paling fenomenal adalah penemuan racun tikus yang kemudian ia beri nama "Tiran" (Tikus diracun Amran). Inovasi inilah yang menjadi batu loncatan pertama bagi karier bisnisnya.
Membangun Tiran Group: Konglomerasi dari Timur
Transformasi Amran dari seorang dosen menjadi pengusaha sukses adalah sebuah legenda di Indonesia Timur. Berbekal inovasi patennya, ia mendirikan Tiran Group.
Bisnisnya berkembang pesat, merambah ke berbagai sektor mulai dari perkebunan, pertambangan, hingga logistik, dengan pendapatan triliunan rupiah per tahun.
Statusnya sebagai salah satu menteri terkaya di kabinet bukanlah hasil instan, melainkan buah dari tangan dinginnya mengelola bisnis yang ia rintis sejak masih muda.
Kepercayaan Tiga Periode dan Mandat Prabowo, Reputasi Amran sebagai "eksekutor lapangan" yang taktis membuatnya menjadi langganan menteri di berbagai era kepemimpinan.
Kini, di bawah bendera Kabinet Merah Putih pimpinan Presiden Prabowo Subianto, Amran kembali diberi mandat sebagai Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional sejak Oktober 2025.
Presiden Prabowo melihat Amran sebagai sosok yang tepat untuk mengejar target swasembada pangan dalam waktu singkat.
Dengan gaya kepemimpinan yang enerjik dan sering turun langsung ke sawah (blusukan), Amran dianggap mampu melakukan percepatan melalui modernisasi alat pertanian (alsintan) dan optimalisasi lahan rawa.
Membawa Harapan di Piring Nasi Rakyat.
Kini, sebagai "Panglima Pangan", tugas Amran sangat krusial: memastikan ketersediaan pangan di tengah ketidakpastian iklim global. Ia terus mendorong program pompanisasi dan perluasan areal tanam guna mengamankan stok beras nasional.
Bagi Amran, jabatan ini adalah bentuk pengabdian tertinggi. Dari seorang dosen yang mengajarkan ilmu, kini ia menjadi ujung tombak yang memastikan perut ratusan juta rakyat Indonesia tetap kenyang melalui kedaulatan pangan mandiri.(Sumber: Wikipedia).