
MAKASSAR SPIRITNEWS.COM.- Tudingan keterlibatan anggota TNI dalam video viral keributan saat aksi unjuk rasa AMARAH di Kota Makassar dipastikan tidak benar. Video yang beredar sebelumnya menampilkan seorang pria yang menggunakan baju kaos bertuliskan “Raider” ditahan oleh beberapa anggota brimob di sekitar Kampus UMI, Jalan Urip Sumoharjo, pada 24 April 2026 malam.
Menindaklanjuti hal tersebut, Pada Sabtu malam (25/4/2026), pihak Yonif Raider 700/WYC yang dipimpin langsung oleh Danyonif, Letkol Inf Iwan Sunarya, mendatangi kediaman pria dalam video tersebut, yakni Suaib (22), di Jalan Balana, Kecamatan Makassar.
Klarifikasi dilakukan secara terbuka dengan menghadirkan pihak keluarga serta disaksikan oleh awak media guna memastikan kebenaran informasi yang beredar.
Dalam keterangannya, Suaib menegaskan bahwa dirinya bukan anggota TNI, melainkan warga sipil yang bekerja sebagai security di salah satu perumahan.
Ia menjelaskan bahwa keberadaannya di lokasi kejadian semata-mata karena rasa penasaran saat hendak menonton konser di sekitar Mall Nipah bersama rekannya.
“Saya bukan anggota TNI, saya kerja sebagai security perumahan,” tegas Suaib saat memberikan klarifikasi.
Ia menambahkan, kaos bertuliskan “Raider” yang dikenakannya diperoleh melalui pembelian di platform Shopee dan dipakai sebagai bentuk kebanggaan terhadap TNI, tanpa maksud menyamar atau mengaku sebagai anggota.
Suaib juga mengungkapkan, bahwa dirinya sempat dihentikan oleh anggota Sat Brimob Polda Sulsel yang tengah melakukan penyisiran di lokasi.
Meski telah menunjukkan identitas diri berupa KTP, ia tetap dicurigai sebagai anggota TNI karena atribut yang dikenakan, sehingga dilakukan pengambilan video yang kemudian beredar luas di media sosial.
Danyonif Raider 700/WYC, Letkol Inf Iwan Sunarya, dalam kesempatan tersebut menegaskan, bahwa Suaib bukan bagian dari prajurit TNI, khususnya dari satuan yang dipimpinnya.
Ia juga memastikan tidak ada keterlibatan anggota Yonif Raider 700/WYC dalam peristiwa keributan tersebut, serta mengimbau masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi dan lebih bijak dalam menyikapi konten di media sosial. (*).