
GOAWA SPIRITNEWS.COM.- Isu dugaan skandal yang menyeret nama Husniah Talenrang akhirnya mulai menemukan titik terang.
Setelah beredar luas selama beberapa bulan dan memicu spekulasi di tengah masyarakat, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Gowa mengungkap hasil penelusuran tim investigasi yang dibentuk untuk mengklarifikasi kebenaran informasi tersebut.
Di bawah komando Pelaksana Tugas Ketua PWI Gowa, Andi Baso Tenri Gowa, tim melakukan serangkaian verifikasi terhadap berbagai sumber yang dinilai kredibel.
Hasilnya menunjukkan bahwa isu dugaan hubungan terlarang antara Bupati Gowa dan konsultan politiknya, Ombas atau Basri Kajang, tidak muncul secara spontan.
“Dari hasil verifikasi kami, isu ini dibangun secara sistematis."
"Potongan-potongan peristiwa dikumpulkan, kemudian dipelintir dan disusun menjadi narasi yang seolah utuh,” ujar Andi Baso dalam keterangannya di Sungguminasa, Pada Hari Sabtu Tanggal 20/03/2026.
Menurutnya, isu tersebut telah bergulir sekitar empat bulan di ruang-ruang diskusi terbatas, seperti grup percakapan dan forum kecil, sebelum akhirnya menyebar luas ke publik.
"Dalam penelusuran itu, tim juga menemukan indikasi adanya peran pihak tertentu yang disebut sebagai “Mr X” dalam mengorkestrasi penyebaran informasi.
“Mr X ini memanfaatkan situasi di rumah jabatan sebagai bahan awal.
Aktivitas yang sebenarnya biasa kemudian diambil, diberi tafsir tertentu, lalu dikemas menjadi informasi yang dapat menyesatkan,” jelasnya.
Salah satu materi yang ikut disebarkan adalah video yang diklaim sebagai bukti adanya kedekatan tidak wajar antara Bupati Gowa dan Ombas.
Namun, hasil pemeriksaan tim investigasi menunjukkan tidak adanya indikasi seperti yang dituduhkan.
“Kami telah mengidentifikasi video tersebut. Tidak ada yang aneh.
Itu hanya aktivitas para pendukung yang sedang berkumpul,” tegas Andi Baso.
Lebih jauh, PWI Gowa menilai bahwa penyebaran isu ini tidak lepas dari adanya kepentingan tertentu di lingkar kekuasaan.
Keberadaan Ombas sebagai staf ahli bidang politik dan pemerintahan disebut menjadi salah satu faktor pemicu.
“Dari berbagai indikasi, Ombas dipandang sebagai penghalang bagi kelompok tertentu yang ingin mendapatkan akses lebih dalam pemerintahan,” ungkap Andi Baso.
Ia menambahkan, upaya pembentukan opini tersebut diduga bertujuan untuk melemahkan posisi Ombas sekaligus menggoyang stabilitas pemerintahan.
“Ada upaya sistematis untuk menyingkirkan Ombas.
Karena jika itu berhasil, maka akan berdampak pada melemahnya pengambilan keputusan strategis di lingkar Bupati,” lanjutnya.
Dampak dari penyebaran informasi tersebut juga dirasakan hingga ke lingkar keluarga Bupati.
Informasi yang telah dikemas secara sistematis itu disebut mampu memantik reaksi dari pihak keluarga yang berada di luar Gowa.
“Informasi itu disampaikan seolah-olah valid dan meyakinkan, sehingga memicu emosi dan ketegangan,” kata Andi Baso.
Sementara itu, langkah internal turut diambil oleh Pemerintah Kabupaten Gowa, termasuk pemberhentian sejumlah sopir dan pengawas di rumah jabatan.
Langkah ini disebut sebagai bagian dari upaya menutup kebocoran informasi yang kerap dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu.
“Hampir setiap aktivitas bocor keluar lalu dipelintir.
Karena itu dilakukan sterilisasi untuk menjaga stabilitas,” ujarnya.
PWI Gowa juga menyoroti bagaimana isu tersebut dapat masuk ke ruang media.
Menurut Andi Baso, pihak-pihak tertentu cukup lihai dalam menyusun informasi agar terlihat logis dan dapat dipercaya.
“Mereka menyajikan potongan peristiwa yang tampak masuk akal, sehingga mampu meyakinkan sebagian pihak, termasuk wartawan,” jelasnya.
Di tengah dinamika tersebut, Husniah Talenrang disebut tetap berupaya menjaga independensi dalam menjalankan roda pemerintahan, dengan membatasi intervensi serta memperkuat sistem pengambilan keputusan yang lebih terarah.
PWI Gowa menegaskan bahwa hasil investigasi ini diharapkan dapat menjadi rujukan publik dalam memahami duduk perkara yang sebenarnya, sekaligus meredam spekulasi yang berkembang di masyarakat, terutama setelah momentum Idul Fitri. (Tim-).