-->

SPIRITNEWS BERITANYA: LUGAS, JUJUR DAN DAPAT DIPERCAYA

**** SPIRITNEWS MASKERKU MENYELAMATKANKU DARI PENULARAN VIRUS COVID-19 "AYO KITA SEMUA SELALU CUCI TANGAN PADA AIR YANG MENGALIR, TETAP JAGA JARAK, HINDARI KERUMUNAN, SELALU MEMAKAI MASKER" ****
Eksplor Keberanian, Prawita GENPPARI Daki Curug Tujuh Kabupaten Garut
Eksplor Keberanian, Prawita GENPPARI Daki Curug Tujuh Kabupaten Garut

Eksplor Keberanian, Prawita GENPPARI Daki Curug Tujuh Kabupaten Garut

Foto. Pengurus Prawita GENPPARI saat Daki Curug Tujuh di Kabupaten Garut.

SPIRITNEWS GARUT.- “ Berwisata memiliki banyak bentuk dan tujuan. Tidak sekedar untuk bersenang – senang dengan segala fasilitas yang ada saja, tetapi juga ada jenis wisata yang menuntut keberanian atau nyali.

Diantaranya berwisata dengan mendaki gunung yang masih perawan di salah satu kawasan gunung Limbung kabupaten Garut, dimana di ujung tebing menuju puncak gunung terdapat pemandangan yang sangat indah dan menakjubkan yaitu Curug Tujuh.

Kegiatan ini merupakan salah satu jenis wisata yang penuh dengan tantangan dan tentu sangat cocok bagi mereka yang berjiwa petualang.

Di samping mental dan nyali yang harus dipersiapkan, tentu juga harus ada ketahanan fisik yang prima serta siap dengan segala resiko yang tak terduga.

Meskipun penuh resiko tentu bukan berarti tindakan konyol, melainkan kegiatan yang penuh perhitungan dengan memperhatikan aspek keselamatan pendakian.

Artinya potensi resiko bisa diminimalisir semaksimal mungkin, kecuali ada resiko lain yang sifatnya benar – benar tak terduga “, ujar Ketua Umum Prawita GENPPARI Dede Farhan Aulawi yang ditemui di sela – sela kesibukannya setelah melakukan pendakian ke curug Tujuh di gunung Limbung Cisompet Garut, Rabu (20/1).

Kemudian Dede juga menambahkan bahwa ia merasa bangga dengan Tim Elang (Emak – emak Petualang) GENPPARI, dimana meski usianya tidak lagi muda tetapi memiliki mental, keberanian dan kekuatan fisik yang luar biasa.

Usia mereka rata – rata di atas 56 tahun karena mereka sudah pada pensiun dari kantornya, tapi kegigihannya dalam mengisi masa pensiun penuh dengan aneka tantangan yang penuh warna.

Jika melakukan perjalanan kemana pun, Tim Prawita GENPPARI tidak menuntut tempat tinggal seperti hotel, atau tempat makan seperti restauran. Mereka tidur dan makan apa adanya untuk menikmati kehidupan alam di masa lalu.

Ibaratnya untuk hidup sengsara di tengah belantara hutan atau sunyinya alam pedesaan sudah benar – benar siap secara lahir dan bathin. Ujarnya.

Saat melakukan ekspedisi curug Tujuh ini, Tim didampingi oleh anggota Prawita GENPPARI kabupaten Garut yaitu Kang Asep Hilmi dan kang Deden. Mereka petualang sejati yang hidup dan kehidupannya memang benar – benar sudah menyatu dengan alam.

Dengan berbagai kunjungan ekspedisi dalam mengeksplor seluruh potensi wisata di daerah, semakin meyakini dan menikmati keindahan alam Indonesia pada umumnya, dan kabupaten Garut Jawa Barat pada khususnya.

Secara administratif, kawasan Curug Tujuh berada di Desa Neglasari, Kecamatan Cisompet, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Menuju lokasinya ini para pengunjung akan melalui kawasan kebun teh Neglasari yang eksotis dan merupakan perbatasan antara Kecamatan Cikajang dengan Kecamatan Cisompet.

“ Penyebutan nama Curug Tujuh diberikan oleh warga karena bentuk aliran curugnya yang berundak dan memiliki jumlah undakan sebanyak tujuh tingkatan.

Curug ini dikenal juga dengan sebutan curug Limbung karena lokasinya yang berada di Gunung Limbung.

Keadaan lingkungan di sekitar Curug Tujuh berupa hutan yang sangat alami dan belum ada jalan menuju lokasi tersebut, sehingga kita harus membuka jalan sendiri, maka sudah bisa diduga kita tersesat beberapa kali di ujung tebing keheningan.

Namun rasa penasaran, keberanian dan jiwa petualangan tak bisa membuat kami berputus asa, malah semakin tersesat semakin berani untuk melangkah “, ungkap Dede dengan bersemangat.

Keberadaan curug Tujuh ini memang benar – benar bisa membuat penasaran jiwa – jiwa petualang.

Lokasinya berbatasan langsung dengan hutan yang masuk ke dalam wilayah Gunung Gelap, sehingga benar-benar tidak ada akses jalan dan masih merupakan habitat berbagai binatang.

Konon menurut para warga setempat, kadang – kadang mereka menemui harimau di belantara hutan tersebut. Namun keberadaan harimau – harimau tersebut diyakini oleh warga sebagai harimau jadi – jadian penghuni hutan gelap.

Oleh karenanya tidak mengherankan ketika berada di spot – spot tertentu ada getaran – getaran mistis yang cukup untuk membangkitkan bulukuduk.

Kadang – kadang membayangkan jika di balik rimbun dan gelapnya hutan, lalu muncul binatang seperti ular anaconda. Mungkin sebagian orang akan mengatakan “lebay”, tapi apa mau diduga gelapnya belantara hutan siapa yang tahu.

Perjalanan menuju kawasan ini harus benar – benar berhati – hati dan penuh perhitungan. Sebaiknya berangkat di pagi hari agar bisa sampai di siang hari, sehingga kabut belum turun dan menyebabkan kawasan menjadi gelap dengan jarak pandang sekitar 5 meter saja.

Berjalan harus hati – hati agar tidak jatuh terpeleset atau tergelincir ke dalam jurang.

Jangan terjebak oleh rimbunan rumput, sebab boleh jadi dia tidak langsung di atas tanah, maka kalau diinjak kaki bisa menyebabkan tergelincir.

Jangan menggunakan alas kaki yang licin dan gunakan sarung tangan yang aman. Beberapa jenis pohon dan rerumputan banyak yang berduri, dan saat kita pegang menyebabkan luka di tangan.

Pedih dan agak gatal dari belasan duri yang menempel di tangan saat memagang ranting pohon yang salah. Itulah sebabnya peralatan safety harus dipersiapkan sejak awal.

“ Ada baiknya juga membawa golok atau parang untuk membuka jalan yang masih tertutup belukar – belukar tua. Persiapkan payung atau jas hujan untuk mengantisipasi jika tiba – tiba turun hujan, termasuk senter jika tiba – tiba awan menutup dan kabut menyergap sehingga keadaan sekitar menjadi gelap.

Bawa beberapa perbekalan makanan ringan dan indomie atau air minum untuk mengantisipasi rasa lapar dan haus, sebab sepanjang perjalanan di kawasan hutan ini tidak ada warung apalagi tukan bakso atau tukang sate.

Ingat bahwa curug ini berada di ketinggian sekitar 1200 – 1600 meter diatas permukaan laut dengan derajat kemiringan yang cukup ekstrim, sepi, gelap dan sunyi.

Jika ragu – ragu lebih baik kembali. Jika tak berani jangan pernah rencanakan mimpi “, pungkas Dede menutup pembicaraan.(*/red).

Baca juga:

Your Reactions:

Admin
Fusce justo lacus, sagittis vel enim vitae, euismod adipiscing ligula. Maecenas cursus gravida quam a auctor. Etiam vestibulum nulla id diam consectetur condimentum.