SPIRITNEWS.COM INDEPENDEN TERPERCAYA

****ONLINE-SPIRIT.COM****DITERBITKAN OLEH: YAYASAN SPIRIT NURHIKMAH,*NOMOR : 12.AKT-NH/ SKU-IV/2015 SK PENGESAHAN KEMENTRIAN HUKUM DAN HAM,****NOMOR AHU - 0005801.AH.011.04/TAHUN 2015 , TANGGAL: 20 APRIL 2015*,SELALU MENDAHULUKAN CEK DAN RICEK,DENGAN PRINSIP NETRALITAS, AKUNTABEL SERTA TERPERCAYA,DALAM PENYIARAN DENGAN MENULIS SESUAI PAKTA,ITULAH KORAN SPIRITNEWS "JADIKANLAH KORAN SPIRITNEWS DAN ONLINE-SPIRIT.COM,BACAAN SEHARI HARI,SERTA MEDIA PEMBERITAAN SEGALA KEGIATANNYA "****
Kapolri, Begini Kronologi Rusuh Wamena Dipicu Murid Salah Dengar Ucapan Guru
Kapolri, Begini Kronologi Rusuh Wamena Dipicu Murid Salah Dengar Ucapan Guru

Kapolri, Begini Kronologi Rusuh Wamena Dipicu Murid Salah Dengar Ucapan Guru

Foto, Kapolri bersama Panglima TNI, saat memberikan keterangan pers.

SpiritNews.com. Kerusuhan terjadi di Wamena, Jayapura, Papua pada Senin (23/9) kemarin. Peristiwa itu bermula dari isu beredar yang menyebut seorang guru menyampaikan perkataan menyinggung pada muridnya.

Semntara itu, Kapolri Jenderal Tito Karnavian menjelaskan awal mula isu beredar berbuntut situasi memanas.dikutip dari Merdeka.com.

Lanjutnya menuturkan bahwa di hari yang sama (dengan kerusuhan di Expo Waema), pagi harinya di SMA PGRI ada isu bahwa ada seorang guru yang sedang mengajar menyampaikan pada muridnya bahwa kalau bicara keras, tutur Jenderal Tito dalam jumpa pers di Kemenko Polhukam, Selasa (24/9).

"Terdengar, oleh murid ini kera. Sehingga dikatakan ke temannya bahwa dikatakan mohon maaf kera. Padahal yang dikatakan 'jangan bicara keras'. Hanya saja mungkin tonenya, dan s nya terdengar lemah," sambung Tito.

Berawal dari isu itulah, muncul informasi di masyarakat dan dikembangkan. Seolah-olah ada guru bersikap rasisme, mengatakan kata-kata tidak pantas yang melukai hati, padahal belum tentu benar.

"Dan kita yakin yang mengembangkannya adalah kelompok tadi, Komite Nasional Papua Barat (KNPB) yang menggunakan seragam SMA. Kita sedang cari orangnya," jelasnya.

Setelah itu, kata Tito, isu tersebut begitu cepat beredar. Sejumlah pelajar diprovokasi, hingga akhirnya mereka berkumpul dan bergabung.

"Saat itu ada petugas dengan cepat datang dari polres, kodim, tapi massa sudah terlanjur besar lebih kurang 2.000 orang," katanya.

Menurut Tito, massa langsung bertindak anarkis dengan melempar batu dan melakukan pembakaran. Bahkan masyarakat pendatang di Papua juga jadi sasaran massa.

"Ada yang melempar batu ke toko di sekitar, bakar kantor bupati, rusak fasilitas, mobil dan motor dibakar," jelasnya.

Melihat situasi yang tidak lagi kondusif, petugas berusaha mengendalikan amarah warga. Sejumlah orang ditangkap.

"Jadi isu hoaks itu mulai pukul 07.30 WIT sampai 15.00 WIT," jelasnya.  (*), Sumber berita Merdeka.com.


Baca juga:

Your Reactions:

Admin
Fusce justo lacus, sagittis vel enim vitae, euismod adipiscing ligula. Maecenas cursus gravida quam a auctor. Etiam vestibulum nulla id diam consectetur condimentum.