ONLINE-SPIRIT.COM, INDEPENDEN TERPERCAYA

****ONLINE-SPIRIT.COM****DITERBITKAN OLEH: YAYASAN SPIRIT NURHIKMAH,*NOMOR : 12.AKT-NH/ SKU-IV/2015 SK PENGESAHAN KEMENTRIAN HUKUM DAN HAM,****NOMOR AHU - 0005801.AH.011.04/TAHUN 2015 , TANGGAL: 20 APRIL 2015*,SELALU MENDAHULUKAN CEK DAN RICEK,DENGAN PRINSIP NETRALITAS, AKUNTABEL SERTA TERPERCAYA,DALAM PENYIARAN DENGAN MENULIS SESUAI PAKTA,ITULAH KORAN SPIRITNEWS "JADIKANLAH KORAN SPIRITNEWS DAN ONLINE-SPIRIT.COM,BACAAN SEHARI HARI,SERTA MEDIA PEMBERITAAN SEGALA KEGIATANNYA "****
Bupati Bone,Kita Harus Mengingat Perjuangan Para Pahlawan
Bupati Bone,Kita Harus Mengingat Perjuangan Para Pahlawan

Bupati Bone,Kita Harus Mengingat Perjuangan Para Pahlawan

Photo,Bupati Bone DR.H Andi Fashar Mahdin Padjalangi,M.Si,bersama Wakil Bupati Drs.H.Ambo Dalle, M.M., Ketua DPRD Bone, Sekda Bone, hadir pula Kapolres Bone, Dandim 1407 Bone, dan pimpinan Forkopimda Lainnya, Pejabat SKPD, Camat se-Kabupaten Bone, serta tokoh sejarah-budaya lainnya.

SpiritNews.com.- Semarak Peringatan Hari Jadi Bone (HJB) ke 687 Tahun 2017,Pemerintah Kabupaten Bone melakukan “ Napak Tilas Arung Palakka”, pada Selasa lalu,sementara napak tilas tersebut dilakukan setelah melaksanakan prosesi “Pramattompang Arajang di Pelataran Museum Arung Palakka “, di Kompleks Rumah Jabatan Bupati Bone Jalan Petta Ponggawae No.1 Watampone.

Napak Tilas adalah berjalan kaki dengan menelusuri jalan yang pernah dilalui oleh seseorang, pasukan, dan sebagainya untuk mengenang perjalanan pada masa perang dan atau sejarah masa lalu. Napak Tilas Arung Palakka berarti menelusuri jalan yang pernah dilalui oleh Arung Palakka dengan tujuan selain mengahargai jasa pahlawan Bone juga mengenang perjalanan panjang pejuang-pejuang Bone dimasa lalu.

Berdasarkan pemantauan awak media ini,Napak Tilas Arung Palakka dipimpin langsung oleh Bupati Bone Bapak Dr.H.Andi Fahsar Mahdin Padjalangi, M.Si., Ketua Penggerak PKK Kab.Bone, bersama Wakil Bupati Drs.H.Ambo Dalle, M.M., Ketua DPRD Bone, Sekda Bone, hadir pula Kapolres Bone, Dandim 1407 Bone, dan pimpinan Forkopimda Lainnya, Pejabat SKPD, Camat se-Kabupaten Bone, serta tokoh sejarah-budaya lainnya.

Kegiatan Napak Tilas Arung Palakka tersebut Bupati Bone bersama rombongan berpakaian adat lengkap mengunjungi Gua Janci, bekas Tapak Kaki Arung Palakka, Tempat Pembaringan/Peristirahatan Arung Palakka, Assingkerukeng Arung Palakka, Attuddukeng Arung Palakka yang terdapat di Bukit Cempalagi Desa Mallari Kecamatan Awangpone Kabupaten Bone. Di mana di Bukit Cempalagi berhadapan langsung dengan Laut Teluk Bone.

Setelah mengunjungi tempat-tempat tersebut di atas Bupati Bone bersama rombongan naik perahu menyusuri pantai Teluk Bone menuju Kawasan Tanjung Pallete Kelurahan Pallette Kecamatan Tanete Riattang Kabupaten Bone.

Melaksanakan Napak Tilas Arung Palakka merupakan kegiatan pertama kali dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Bone. Oleh karena itu Napak Tilas Arung Palakka mulai tahun 2017 ini menjadi rangkaian kegiatan Hari Jadi Bone dan tahun selanjutnya.

Di Bukit itulah Raja Bone Ke-15 Arung Palakka mengucapkan sumpah-nazar dan mengatur strategi membebaskan Bone dari cengkeraman penjajahan negeri tetangga Gowa sebelum bertolak ke Buton.

Di Bukit Cempalagi dapat disaksikan beberapa situs. Berawal Ketika Arung Palakka mencapai puncak kemurkaannya, dengan kesaktian sebagai seorang raja ia mencakar (makkarebbe), menghettakkan tumitnya dengan kuat (mattuddu) dan bersumpah (mattanro) untuk membebaskan masyarakatnya pada suatu ketika.

Ketiga hal yang dilakukan oleh Arung Palakka ini melahirkan tiga prasasti yang dimaksud yang berupa bekas cakaran (akkarebbeseng), bekas hentakan kaki/tumit (attuddukeng). Keduanya di atas batu. Kemudian sumpah untuk membebaskan rakyatnya dari segala ketertindasan dibuktikan dengan simpul (singkeru’) karena dalam tradisi orang Bugis keseriusan sumpah biasanya dilambangkan dengan simpul mati. Maka dari itu prasasti tersebut dikenal dengan nama Assingkerukeng.

Akkarebbeseng (bekas cakaran) ditemukan pada batu di dinding gua sebelah kiri ketika turun sebelum mencapai sumur. Gua tersebut disebut liang launge (gua yang lama). Dikatakan demikian karena gua tersebut merupakan gua pertama di antara dua gua yang sering dikunjungi sebagai tempat rekreasi.

Assingkerukeng (simpul) diketemukan disebuah gua di sebelah utara gunung (dekat pantai). Uniknya yang disebut sebagai assingkerukeng itu berupa batu yang bentuknya lain dari pada yang lain. Sampai saat ini tempat tersebut dikeramatkan oleh penduduk setempat dan banyak dikunjungi orang memberikan sesajen untuk memohon berkah (red). Layaknya di tempat keramat lainnya, di tempat ini pengunjung harus menjaga sikap untuk menghindari kualat makhluk ghaib yang menghuninya.

Attuddukeng diketemukan di kaki gunung sebelah timur (tidak jauh dari pemukiman penduduk) di atas lempengan sebuah batu berupa lubang yang berukuran kira-kira 35 cm. Sebenarnya tempat itu merupakan bagian dari laut. Maka dari itu ia hanya kelihatan saat pasang sedang surut. Uniknya, meskipun berada di bagian laut, mata air yang menggelembung dari bawah dijadikan sebagai sumber air tawar oleh penduduk setempat di kala musim kemarau.

Sebenarnya bila dilihat fisiknya sekarang, mungkin susah dipercaya bahwa lubang tersebut sebagai bekas kaki Arung Palakka karena terlalu besar untuk ukuran kaki, namun itulah yang terjadi dan masih bisa disaksikan sampai saat ini.

Akan tetapi boleh jadi keunikan itulah sehingga diperlebar oleh masyarakat setempat demi memenuhi kebutuhan akan air tawar pada waktu-waktu tertentu. Atau boleh jadi ukuran kaki Arung Palakka memang melebihi ukuran kaki orang lain pada umumnya.(*).sumber berita humas pemkab bone.


Baca juga:

Your Reactions:

Admin
Fusce justo lacus, sagittis vel enim vitae, euismod adipiscing ligula. Maecenas cursus gravida quam a auctor. Etiam vestibulum nulla id diam consectetur condimentum.